PULANG KE GURADOG:
Merawat Syukur, Menjaga Luhur dalam Ritual Seren Taun
Penulis: Febrianti Satibi, Ujang Jamaludin, dan Damanhuri
Halaman: viii + 86 hlm
Ukuran: A5
Kertas: HVS
Isi: Sisipan warna
Cover: Softcover
Harga: Rp70.000
Sinopsis:
Di dunia yang kian bergegas, di mana kemajuan sering kali diukur dari seberapa cepat kita meninggalkan masa lalu, Masyarakat Adat Guradog di pelosok Lebak, Banten, menawarkan sebuah anomali yang menyejukkan. Di sini, waktu tidak dihitung dengan detak jam digital, melainkan dengan ritme musim dan sapaan alam. Saat bulir-bulir padi mulai merunduk kuning, angin pegunungan Banten Kidul membawa kabar yang selalu dinanti. Seren Taun telah tiba.
Namun, jangan bayangkan sebuah pesta yang riuh dengan letupan kembang api. Di Guradog, pergantian tahun adalah sebuah perjalanan “pulang” yang sunyi namun bertenaga. Ia adalah kepulangan ribuan perantau yang rindu pada tanah asal, kepulangan jiwa kepada akar tradisi, dan kepulangan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Melalui ritual ini, padi bukan sekadar komoditas pangan yang berakhir di piring makan; ia adalah “nyawa” yang dimuliakan melalui prosesi ngarengkong, dibungkus dalam doa-doa luhur, dan dijaga kesuciannya di dalam leuit adat.
Buku ini mengajak Anda menembus tugu batas wilayah adat, sebuah ruang peralihan di mana gawai modern dan motor terbaru bersanding harmonis dengan ikat kepala cokelat dan filosofi kuno Ngajiwa. Febrianti Satibi, melalui riset mendalam dan narasi yang hangat, membedah rahasia ketahanan salah satu kasepuhan tertua di Banten ini dalam menghadapi badai disrupsi.
Anda akan diajak menyelami setiap tahapan sacral mulai dari musyawarah Baris Kolot yang demokratis, aroma manis Pasung Cocok di dapur-dapur warga, hingga khidmatnya ziarah di makam para kokolot. Lebih dari sekadar catatan etnografi, PULANG KE GURADOG adalah sebuah kompas bagi siapa saja yang merasa kehilangan arah di tengah modernitas. Ia adalah pengingat bahwa secepat apa pun kita berlari menuju masa depan, kita selalu membutuhkan akar yang kuat agar tidak mudah tumbang. Sebuah undangan untuk merayakan syukur, sebuah peta untuk menemukan kembali jati diri.





Reviews
There are no reviews yet.