(E-BOOK) ATJEH LON SAYANG
Sebuah Catatan Luka tentang Negeri Bintang Bulan
Penulis: Teuku Muhammad Al Arkhan
Halaman: xii + 282 hlm
Ukuran: 15,2 x 22,8 cm
Harga: Rp60.000
Sinopsis:
Atjeh Lon Sayang adalah sebuah perjalanan panjang menelusuri sejarah Aceh mulai dari kejayaan Kesultanan Atjeh Darussalam, hubungan dengan kekuatan-kekuatan Lasing, perang panjang melawan kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga pergolakan politik dan konflik bersenjata pada masa Republik Indonesia.
Buku ini tidak hanya bercerita tentang peperangan, tetapi tentang sebuah bangsa yang berkali-kali dihadapkan pada persoalan kedaulatan, kehormatan, identitas, dan hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Dari meriam Kesultanan Atjeh hingga perang panjang yang menguras kekuatan Belanda, dari jatuhnya kolonialisme Belanda pada 1942 hingga berbagai pergolakan setelah Indonesia merdeka, sejarah Aceh dalam buku ini dibaca sebagai rangkaian panjang perjuangan dan perubahan yang meninggalkan jejak mendalam.
Namun sejarah Aceh tidak berhenti ketika kolonialisme berakhir. Luka sejarah terus berlanjut dalam berbagai konflik dan kekerasan yang menimpa masyarakat sipil. Rumoh Geudong, Simpang KKA, Jambo Keupok, Bumi Flora, Idi Cut, dan berbagai peristiwa lainnya memperlihatkan bahwa di balik narasi konflik terdapat manusia-manusia yang kehilangan nyawa, keluarga, rumah, martabat, dan hak untuk memperoleh keadilan. Buku ini membawa pembaca dari sejarah peperangan menuju persoalan yang jauh lebih sulit, yaitu bagaimana sebuah bangsa mengingat lukanya dan bagaimana keadilan seharusnya diberikan kepada mereka yang menjadi korban.
Atjeh Lon Sayang pada akhirnya bukan sekadar buku tentang masa lalu. Ia adalah upaya untuk membuka kembali halaman-halaman sejarah yang terlalu sering dibaca secara sepihak, mempertanyakan narasi yang dianggap telah selesai, dan mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga tentang siapa yang kehilangan, siapa yang terlupakan, dan siapa yang masih menunggu keadilan.
Sebab mencintai Atjeh bukan berarti hanya memuji kejayaannya. Mencintai Atjeh berarti berani membaca sejarahnya secara utuh termasuk perang, pengkhianatan, penderitaan, darah, dan luka yang belum selesai.
Dan mencintai negeri Bintang Bulan bukan sekedar hanya mengenang keberanian para pejuangnya, tetapi juga berani menatap luka yang ditinggalkan sejarah. Karena luka itu masih menganga, dan catatan tentang luka itu masih terbuka. Kedaulatan Atjch sejatinya tidak pernah hilang hingga sekarang, namun tersandera menunggu pembebasan untuk kembali berjaya seperti di masa Kesultanan Atjeh Darussalam.





Reviews
There are no reviews yet.