7 AGUSTUS 1669 MARWAH DI MUARA DI BATANG ARAU
Ketika Sebuah Nagari Memilih Berdiri Sendiri, Lahirlah Sejarah yang Tak Akan Pernah Padam
Penulis: Elfizon Amir
Halaman: 290 hlm
Ukuran: A5
Kertas: Bookpaper
Isi: BW
Cover: Softcover
Harga: Rp100.000
Sinopsis:
Pada pertengahan abad ke-17, Pelabuhan Muaro di sepanjang aliran Batang Arau tumbuh sebagai pusat perdagangan emas dan rempah yang makmur di pesisir barat Sumatra. Namun, ketenangan itu terusik ketika kongsi dagang Belanda (VOC) datang menanamkan pengaruh. Memanfaatkan keunggulan militer, VOC mendirikan loji bertembok batu tebal di Ujung Muara serta memaksakan monopoli perdagangan yang mencekik perekonomian rakyat lokal.
Mangkuto, seorang dubalang muda nan tangguh dari Nagari Pauh, menyaksikan langsung penderitaan rakyatnya. Kesewenang-wenangan serdadu VOC mencapai puncaknya saat perahu dagang lokal ditenggelamkan secara paksa di muara. Didorong kewajiban menjaga marwah tanah kelahiran, Mangkuto dipercaya oleh ninik mamak, Datuk Rajo Ameh, untuk menggalang kekuatan rahasia.
Perjuangan Mangkuto penuh risiko. Ia harus meloloskan diri dari cengkeraman mata-mata Kompeni demi menyusup ke sekitar loji dan memetakan kelemahan musuh. Usaha gigihnya membuahkan hasil ketika Nagari Pauh dan Nagari Koto Tangah sepakat menyatukan barisan, mengikat sumpah setia untuk bergerak sehagai satu tubuh demi mengusir penjajah.
Dini hari tanggal 7 Agustus 1669, serangan kilat dilancarkan serentak dari tiga arah yakni daratan, rawa-rawa, dan aliran sungai. Meski VOC bertahan di balik benteng kokoh dengan dentuman meriam, gelombang semangat anak nagari tak terbendung. Pasukan pimpinan Mangkuto berhasil menerobos dinding belakang dan membakar gudang amunisi serta barak Kompeni, membumihanguskan benteng angkuh itu menjadi lautan apl
Kemenangan heroik ini dibayar mahal oleh gugurnya paru pejuang nagari Kendati VOC kelak kembali merabawa armada besar untuk membalas dendam, peristiwa 7 Agustus 1669 telah terukir sebagai tonggak sejarah yang tak terhapuskan. Tiga abad kemudian, keberanan malam itu diabadikan secara resmi sebagai Hari Jadi Kota Padang sebuah pengingat abadi bahwa kota inl lahir bulan dari belas kasihan kolonial, melainkan dari momentum perlawanan rakyat dalam mempertahankan kedaulatannya.





Reviews
There are no reviews yet.