KERAJAAN-KERAJAAN DI BUMI ATJEH
Merajut Peradaban, Menjaga Kedaulatan
Penulis: Teuku Muhammad Al Arkhan
Halaman: xvi + 510 hlm
Ukuran: 15,2 x 22,8 cm
Kertas: Bookpaper
Isi: Hitam putih
Cover: Softcover
Harga: Rp150.000
Sinopsis:
Atjeh bukanlah sejarah yang dimulai ketika Kesultanan Atjeh Darussalam mencapai kejayaannya. Jauh sebelum itu, di tanah yang menghadap Samudra Hindia dan Selat Malaka, telah tumbuh kerajaan-kerajaan yang membangun fondasi sebuah peradaban besar.
Kerajaan-Kerajaan Dibumi Atjeh, Merajut Peradaban, Menjaga Kedaulatan mengajak pembaca menelusuri perjalanan panjang tersebut mulai dari jejak masyarakat awal Atjeh, berkembangnya jaringan perdagangan maritim, peradaban Islamnya, hingga lahir dan berkembangnya berbagai kerajaan seperti Lamuri, Jeumpa, Peureulak, Samudera Pasai, Linge, Pedir, Daya, Benua Temiang, dan Aru, sebelum akhirnya mencapai klimaks pada Kesultanan Atjeh Darussalam.
Buku ini tidak sekadar menghadirkan nama-nama raja, silsilah, wilayah kekuasaan, dan pergantian pemerintahan. Di balik setiap kerajaan terdapat kisah tentang perdagangan, Islam, ilmu pengetahuan, diplomasi, adat, pemerintahan, pelayaran, peperangan, dan perjuangan mempertahankan martabat negeri. Lamuri tampil sebagai salah satu gerbang awal Atjeh menuju jaringan peradaban internasional, Jeumpa dikenang dalam tradisi sejarah sebagai bagian penting dari perkembangan awal peradaban Islam, sementara kerajaan-kerajaan lainnya memperlihatkan bagaimana kekuatan pesisir dan pedalaman saling terhubung dalam membentuk perjalanan sejarah Atjeh.
Pada puncaknya, Kesultanan Atjeh Darussalam memperlihatkan bagaimana fondasi yang dibangun oleh kerajaan-kerajaan sebelumnya berkembang menjadi sebuah kekuatan politik, maritim, ekonomi, keilmuan, dan diplomasi yang disegani. Buku ini bahkan menelusuri struktur pemerintahannya secara mendalam mulai dari Sultan, Baitul Mal, Qadhi Malikul Adil, Panglima, Syahbandar, Uleebalang, Mukim, Sagoe, Gampong, Meunasah, Dayah, hingga Qanun. Sehingga pembaca dapat melihat bahwa kebesaran Atjeh tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui tata kelola pemerintahan dan tradisi keilmuan.
Yang membuat buku ini semakin menarik adalah upayanya mempertemukan suara sejarah Atjeh dengan sumber-sumber dari luar. Hikayat dan manuskrip Atjeh ditempatkan sebagai fondasi narasi, kemudian dibaca berdampingan dengan catatan Arab, Persia, Tiongkok, India, Portugis, Belanda, Prancis, sumber-sumber sejarah modern, serta bukti arkeologis seperti batu nisan, keramik, mata uang, benteng, makam, dan berbagai artefak. Dengan demikian, sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi juga diajak untuk dibaca melalui jejak-jejak yang masih tertinggal.
Lebih dari sekadar buku sejarah, karya ini adalah sebuah upaya merawat ingatan. Ia mengingatkan bahwa sebuah peradaban tidak dibangun oleh satu kerajaan atau satu generasi saja. Setiap kerajaan meninggalkan bagian dari warisan yang kemudian membentuk wajah Atjeh. Linge menjaga denyut kehidupan pedalaman Gayo, kerajaan-kerajaan pesisir menghubungkan Atjeh dengan dunia perdagangan internasional, sementara Kesultanan Atjeh Darussalam menyatukan berbagai kekuatan tersebut dalam sebuah kekuasaan yang lebih besar.
Pada akhirnya, buku ini bukan hanya pertanyaan tentang “siapa yang pernah berkuasa di Atjeh?”, tetapi pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana sebuah negeri membangun peradaban, mempertahankan identitas, dan menjaga kedaulatannya sepanjang sejarah?
Bagi generasi hari ini, sejarah Atjeh bukan sekadar masa lalu. Ia adalah ingatan, identitas, dan warisan yang menghubungkan generasi sekarang dengan para indatu yang telah lebih dahulu membangun negeri.
Inilah perjalanan panjang Atjeh mulai dari kerajaan-kerajaan awal, jaringan peradaban Islam, kejayaan maritim, hingga Kesultanan Atjeh Darussalam. Sebuah perjalanan tentang peradaban yang dirajut selama berabad-abad dan kedaulatan yang terus diperjuangkan.





Reviews
There are no reviews yet.