PERWAKILAN SEMUT MEMBICARAKAN GLOBALISASI DAN MASA 5.0
Penulis: Bambang Judi Bagiono dan Badzlin Safira
Halaman: xx + 243 hlm
Ukuran: A4
Kertas: HVS
Isi: BW
Cover: Softcover
Harga: Rp120.000
Sinopsis:
Perwakilan Semut Membicarakan Globalisasi dan Masa 5.0
Di balik retakan tembok, celah lantai, bawah trotoar, reruntuhan kayu, hingga sudut-sudut laboratorium manusia, terdapat sebuah peradaban kecil yang hampir tidak pernah diperhatikan. Mereka adalah semut. Tubuh mereka kecil, tetapi kehidupan koloninya menyimpan sistem sosial yang terorganisasi, komunikasi yang rumit, pembagian kerja yang disiplin, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang luar biasa.
Dalam buku Perwakilan Semut Membicarakan Globalisasi dan Masa 5.0, Bambang JB menghadirkan sebuah fabel-satire yang mempertemukan dunia semut dengan berbagai persoalan besar peradaban manusia. Cerita bermula ketika Ratu Semut Dunia mengirimkan surat panggilan kepada delapan perwakilan koloni untuk menghadiri sebuah pertemuan rahasia bernama Majelis Semut Sedunia. Pertemuan tersebut diselenggarakan di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi dan hanya dapat ditemukan melalui jalur komunikasi feromon.
Delapan perwakilan tersebut memiliki karakter dan pengalaman berbeda. Semut Hitam Rumah menjadi pengamat kehidupan manusia dari jarak terdekat. Semut Api tampil sebagai sosok pemberani yang menginginkan perlawanan terhadap dominasi manusia. Semut Firaun merupakan ahli infiltrasi yang melihat laboratorium, rumah sakit, dan gudang pangan sebagai ruang strategis untuk bertahan hidup. Semut Tukang Kayu hadir sebagai seorang insinyur alam yang kritis terhadap pembangunan manusia. Semut Trotoar membawa cerita tentang kerasnya kehidupan di tengah beton, aspal, polusi, dan panas perkotaan. Semut Rangrang menawarkan filosofi gotong royong melalui kemampuan mereka membangun sarang dari daun. Semut Hantu menjadi suara kebijaksanaan dan sejarah, sedangkan Semut Odorous menjadi simbol satire terhadap berbagai bentuk kebusukan sosial, korupsi, keserakahan, dan kemunafikan manusia.
Dalam persidangan tersebut, mereka membicarakan berbagai persoalan global: globalisasi, perubahan iklim, urbanisasi, krisis pangan, eksploitasi alam, perkembangan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, kapitalisme, serta masa depan Society 5.0.
Bagi manusia, Society 5.0 merupakan konsep masyarakat masa depan yang mengintegrasikan teknologi digital dengan kehidupan manusia. Namun bagi para semut, konsep tersebut justru mengundang pertanyaan. Mereka telah mengenal kerja kolektif, komunikasi, distribusi makanan, pembagian tugas, dan kecerdasan koloni jauh sebelum manusia mengenal istilah big data, artificial intelligence, dan Internet of Things.
Perdebatan semakin tajam ketika para semut menyadari bahwa teknologi manusia tidak selalu digunakan untuk menciptakan kesejahteraan. Pestisida modern, sensor cerdas, pembangunan kota, dan rekayasa genetika dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan ekosistem. Globalisasi bahkan memungkinkan perpindahan spesies secara tidak terkendali sehingga menciptakan konflik ekologis baru.
Melalui humor, dialog absurd, kritik sosial, dan renungan filosofis, buku ini membalik posisi manusia dan semut. Manusia yang merasa sebagai penguasa bumi justru menjadi objek pengamatan dan kritik.
Pada akhirnya, Majelis Semut Sedunia menghadapkan pembaca pada sebuah pertanyaan sederhana tetapi mengguncang:
Siapakah yang sebenarnya lebih siap menghadapi masa depan—manusia dengan teknologi Society 5.0, atau semut dengan solidaritas dan kecerdasan kolektifnya?
Buku ini bukan sekadar kisah tentang semut. Ia adalah cermin tentang manusia, peradaban, dan masa depan bumi.





Reviews
There are no reviews yet.